Kamis, 21 Oktober 2010

Musik Tong-tong atau dalam bahasa Madura musik Daul Tuk-tuk asal Kabupaten Pamekasan, berhasil masuk MURI dengan rekor penabuh terbanyak. Yakni sebanyak 300 orang penabuh. Tak pelak akibat banyaknya penabuh hingga membuat suasana Gramedia Expo Surabaya, Jum’at sore (22/05) nampak terdengar meriah dan penuh riuh. Karena irama yang dibunyikan begitu indah, berasal dari bebunyian tetabuhan dari drum minyak, drum ikan, gong, gamelan, kuali dan gong. Lengkap diiringi nyanyian khas Madura.

About Me

Setelah sekian lama ada di angan… Akhirnya kata pertamapun aku tuliskan… Inilah kehendak jiwa, inilah implementasi semangatku… 


Assalamu’alaikum semua… Semoga keberkahan meyertai kita semua.. Alhamdulillah aku haturkan kepada Allah, Tuhan pemilik Segala, Dia Yang Maha berkehendak, Dia Yang Maha mengetahui atas segala sesuatu.. Allah telah mengantarkan jemariku untuk memulai melanggang menggantikan keringat menjadi tulisan.. Berharap semoga yang aku tuliskan menjadi jalan keridhoan-Nya mungkin banyak orang yang bilang klo aq susah ditebak tapi yang pastinya ada yang tau tentang semua hal yang ada dalam hidup aku tanpa satupun yang tersembunyi bagiNYA. aku anak ketiga dari tiga bersaudara, sekarang aku lagi bekerja di Prodi D3 Kebidanan Poltekkes Mojopahit Mojokerto di UIM mulai Agustus 2009 sampai sekarang..sebelum menjadi dosen aku pernah magang di RS Siti khodijah sepanjang selama 6 bln kemudian pindah ke Pamekasan dan bekerja di Rumah Bersalin BUNDA Pamekasan selama ± 6bln, dari sanalah aku banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang ada hubungannya dengan kebidanan. Baik dari hal-hal yang fiologis maupun patologi...   aku tdk pernah membayangkan tuk dikampusku yg sekarang beda jauh dengan dulu waktu aku kuliah. Bedanya sih banyak..mulai dari biaya masuk, spp per semester, biaya praktek hmmmmmm jauh lebih murah daripada  Disamping itu aku dan kuliah di STIE Malang jurusan Manajemen Kesehatan.

Wassalamu’alaykum Wr.wb

Minggu, 17 Oktober 2010

Jumat, 08 Oktober 2010

Batik Tulis Ala Madura



BATIK adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, alhamdulillah telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Sudah sepatutnya, kita bangga dan melestarikan salah satu kekayaan bangsa Indonesia ini. Mari kita jadikan batik ini sebagai ikon bangsa Indonesia, kita jadikan batik ini adalah pakaian nasional, pakaian sehari-hari kita, bukan lagi sebagai pakaian sakral yang harus dikenakan pada acara-acara tertentu saja.

Dari Ujung Timur sampai Barat Indonesia, hampir seluruh daerah memiliki corak batik masing-masing. Dari Medan, Padang, Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Pekalongan, Banyumas, Jogjakarta, Surakarta, Lasem, Tuban, Sidoarjo, Tulungagung, Kalimantan, Bali, Lombok, sampai Madura (Bangkalan,Sampang, Pamekasan, Sumenep) dan tentu saja masih banyak yang lainnya. Masing-masing memiliki karakteristiknya, daerah pesisir pantai memiliki kekhasan yang lain dari yang non pesisir. Daerah pesisir, karena memang dahulu relatif lebih sering berinteraksi dengan dunia luar, maka hal ini juga berpengaruh terhadap corak batiknya. Corak batik daerah pesisir lebih berani, dengan corak-corak yang bebas tanpa memiliki pakem ditambah dengan dominan warna yang menyala, sedangkan batik daerah 'tengah' masih memegang teguh pakem yang diturunkan dari nenek moyang. Corak-corak batik pesisir bisa kita temui di daerah Cirebon, Pekalongan, Tuban, Lasem dan Madura, sedangkan corak batik yang masih setia dengan pakem dapat dicontohkan dari batik Jogja dan Surakarta, walaupun akhir-akhir ini batik Surakarta juga sudah berakulturasi dan mencoba akomodatif dengan permintaan pasar.

Khusus untuk batik Madura, kita bisa temukan corak-corak yang beragam pula bahkan untuk setiap kota memiliki kekhasan masing-masing. Batik Tanjungbumi, Bangkalan berbeda dengan batik Pamekasan maupun Sumenep. Batik Tanjungbumi lebih tegas dalam menunjukkan jati dirinya sebagai batik khas pesisir, sedangkan batik Pamekasan maupun Sumenep lebih kaya dalam corak dan penggunaan warna-warna kalem juga semakin jamak.

Berlibur ke Api Tak Kunjung Padam

Jika Anda berkunjung ke Pamekasan, Madura, Jawa Timur, belum lengkap rasanya jika belum mampir ke objek wisata api yang tak kunjung padam di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan. Api yang muncul di permukaan tanah ini tidak pernah padam meski diguyur hujan lebat.

Anehnya, api hanya menyala di tanah sekitar lingkaran pagar, sehingga warga tidak khawatir api akan menjalar ke rumah mereka. Jika tanah di sekitar titik api digali, nyala api akan menjadi besar. Tapi, warga tidak bisa dengan sengaja membuat titik api baru meski di dalam lingkaran pagar. Tidak ada yang tahu asal muasal keajaiban alam ini. Tapi, ada legenda yang dipercaya warga tentang asal api abadi ini. Yaitu legenda Kiai Moko, seorang sakti dan ternama di Madura. Sebuah penelitian tentang kandungan gas alam atau minyak di lahan sekitar lokasi pernah dilakukan, tapi tidak menemukan apa pun.

Nyala api yang muncul di permukaan tanah sama seperti nyala kompor gas, biru dan bertekanan udara. Tidak sedikit pengunjung yang memanfaatkan api untuk membakar ayam atau jagung yang sengaja disediakan pedagang di sekitar lokasi.

Api Tak Kunjung Padam terletak arah selatan ± 7 Km dari Kota Pamekasan tepatnya di Dusun Dangkah Desa Larangan Tokol Kecamatan Tlanakan yang merupakan wisata api abadi, sumber air panas dan belerang. Masyarakat lokal mengkaitkan keberadaan obyek wisata tersebut dengan cerita legenda Ki Moko. Setiap malam bulan purnama lokasi wisata ini selalu ramai karena sarana transportasi sangat mudah dan kondisi jalan aspal.
Wisata Indonesia Surga Dunia